SELAMAT DATANG DI HALAMAN KOMUNITAS KEANGKATAN LAUTAN & MARITIM
Alamat : Jalan Pulau Galang Raya Kelapa Gading Barat Jakarta Utara Indonesia.
Mobilphone :
+6281244581965, e-mail : uninesia@gmail.com
SEJARAH DUNIA MEMBUKTIKAN BAHWA : " KECIL ANGKATAN LAUT SUATU NEGARA, MAKA LEMAH NEGARA ITU ----- BESAR ANGKATAN LAUT SUATU NEGARA, MAKA KUAT NEGARA ITU "

Jumat, 15 Juni 2012

FROM CRUISER TO PATROL CRAFT.........???


Uninesia, Jakarta - perkembangan pembangunan kekuatan Angkatan Laut di kawasan Asia Pasifik, khususnya Asia Tenggara, kita perlu khawatir dengan kecenderungan yang dialami Indonesia. Khawatir karena dari segi fisik, ada kemunduran yang sepertinya akan terus terjadi setidaknya hingga dua puluh tahun ke depan. Ketika negara-negara lain di kawasan ini capital ship-nya kian meningkat, kita malah kian menurun.
Mari kita bandingkan antara Jane’s Fighting Ship di era 1960-an dengan Jane’s Fighting Ship 2007. Dari sana bisa dilihat, tahun 1960-an mayoritas Angkatan Laut di kawasan Asia Tenggara capital ship-nya hanya kapal-kapal kecil kelas Patroli Cepat/ Patrol Craft (PC). Hanya 1-2 Angkatan Laut kawasan yang capital ship-nya fregat ke atas. Indonesia saat itu mempunyai Angkatan Laut yang terkuat di kawasan, bahkan untuk tingkat Asia Pasifik sekalipun. Capital ship kita cruiser RI Irian-201. Semua itu karena adanya political will dari pemerintah saat itu, walaupun mayoritas rakyat kita waktu itu masih miskin, pendapatan perkapita sangat rendah dan buta huruf.


Apa yang terjadi sekarang......?. Ketika tingkat kemiskinan, pendapatan perkapita di atas US$ 1.000 dan melek huruf bangsa Indonesia jauh lebih baik dibanding era 1960-an, Angkatan Laut kita malah mengalami kemunduran dari 1960-an. Tahun 1980-an pemerintah masih sanggup biayai Angkatan Laut untuk pengadaan fregat (walaupun fregat bekas). 20 tahun setelah itu, pemerintah hanya sanggup biayai pengadaan korvet. Apakah 20 tahun ke depan pemerintah kita hanya sanggup biayai pengadaan PC........???

Menurut kajian strategis, pengadaan kapal jenis fregat merupakan kebutuhan Angkatan Laut. Karena sebagian perairan kita sea state-nya di atas 3 yang tidak menguntungkan bila pakai kapal yang lebih kecil. Kalau dipaksakan sih bisa, tapi fokus komandan kapal dan awaknya bukan lagi pada operasi, tapi pada keselamatan awak dan material.


Pertimbangan lainnya, Angkatan Laut punya fungsi diplomasi yang akan terus melekat sampai kapan pun. Untuk melaksanakan itu, masak kita pakai kapal PC......???. Mau ditaruh di mana muka republik ini.......!!!. Republik ini luas wilayahnya tidak sekecil Singapura, tapi terbentang dari timur ke barat setara jarak pantai timur ke pantai barat Amerika Serikat. Singapura saja yang luasnya cuma seukuran Jakarta capital ship-nya fregat Lafayette, terus apakah pantas republik ini Angkatan Laut -nya cuma diperkuat oleh PC nantinya sebagai capital ship.........???

Kita mesti beranggapan bahwa stabilitas kawasan Asia Tenggara ditentukan oleh stabilitas Indonesia, karena dua pertiga kawasan ini adalah yurisdiksi kita. Apakah mungkin menjaga stabilitas itu pakai PC nantinya, sementara yang dihadapi mulai dari fregat sampai kapal induk. Harap diingat, pada tahun 1992 ketika digelar KTT ASEAN di Manila, kita deploy KRI kelas Fatahilah (FTH) ke Teluk Manila untuk amankan pimpinan nasional kita yang ikut KTT. Waktu itu di Filipina kondisi politiknya sedang tidak stabil karena sedang wabah kudeta. Sangat disayangkan, catatan emas itu sepertinya kurang tercatat dalam sejarah republik ini.

Deployment KRI kelas FTH selain merupakan fungsi diplomasi, juga menunjukkan siapa Indonesia di kawasan. Apa yang kita lakukan saat itu tidak beda dengan apa yang dilaksanakan Amerika Serikat sepanjang tahun sejak akhir Perang Dunia Kedua hingga detik ini, yaitu diplomasi Angkatan Laut yang berisikan pesan kepentingan nasionalnya.

Sebagian pihak menganggap bahwa pengadaan kapal fregat ke atas mahal biayanya. Pemikiran demikian boleh-boleh saja, tapi mana yang lebih mahal dengan martabat dan harga diri bangsa......???. Anggaran itu bisa diciptakan kok, soal mahal atau tidak itu relatif. Kita hendaknya jangan terjebak pada anggaran.....!!!. Kalau kita mau berfikir realistis, mengapa terjadi kemunduran dalam hal jenis kapal perang yang perkuat Angkatan Laut kita, itu karena pemerintah kurang punya political will untuk bangun Angkatan Laut. Itu masalahnya......!!!. Bukan soal masih banyak penduduk miskin, pendapatan perkapita rendah, anggaran terbatas dan lain-lain. Ingat, APBN kita tahun 2008 saja Rp.800 trilyun. Waktu jaman pemerintahan Bung Karno memodernisasi Angkatan Laut kita di awal 1960-an, dugaan saya APBN masih pada kisaran puluhan juta rupiah saja, paling tinggi ratusan juta rupiah. Maaf, saya belum dapat data lengkap APBN kita di era itu.

Memang betul bahwa modernisasi Angkatan Laut saat itu terkait dengan kondisi politik untuk satukan wilayah Nusantara di bawah Merah Putih. Artinya, ada imminent threat, ada kebutuhan mendesak. Pertanyaannya, apakah kondisi sekarang tidak masuk kategori kebutuhan mendesak.....???. Keutuhan wilayah kita terancam (Ambalat, masalah perbatasan dengan Singapura), kerugian negara dari pencurian kekayaan laut sekitar US$ 25-30 milyar, belum lagi kegiatan lain di laut yang dilakukan oleh pihak asing yang pada dasarnya dapat dikategorikan melecahkan kita, jadi.....tidak bisa dikategorikan sebagai kebutuhan mendesak lagi.........???

Keliru jika kita berpikir bahwa memperkuat militer, khususnya Angkatan Laut, kalau sudah ada ancaman nyata. Memangnya kita beli kapal perang seperti belanja di pasar atau supermarket, barangnya sudah tersedia, tinggal kita bayar dan ambil bawa pulang. Itu baru dari sisi ketersediaan barang. Belum lagi ketika masuk aspek politik, siapa kawan yang jual kapal perangnya ke kita......???. Bung Karno hebat karena dia rangkul Uni Soviet, sehingga Angkatan Laut kita diperhitungkan di kawasan. Pak Harto, beliau bisa rangkul Amerika Serikat, sehingga Angkatan Laut kita tetap diperhitungkan. Sekarang kita mau rangkul siapa.....???. Sangat kita khawatirkan, karena kita tidak bisa rangkul siapa-siapa, kekhawatiran bahwa 20 tahun ke depan pemerintah cuma bisa biayai pengadaan PC buat Angkatan Laut kita akan menjadi kenyataan.....!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar